1. Pengertian prinsip dalam
manajemen kelas
Prinsip-prinsip manajemen kelas
mengandung pengertian yaitu, proses pengelolaan kelas untuk menciptakan suasana
dan kondisi kelas yang memungkinkan siswa dapat belajar secara efektif
(Rachman, 1999:11).
Pengelolaan kelas juga dapat
diartikan sebagai segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar
mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk
belajar dengan baik dan sesuai dengan kemampuan (Ahmad, 1996:).
Jadi dapat disimpulkan bahwa prinsip
dasar pengelolaan kelas adalah pegangan atau acuan yang dimiliki pokok dasar
berfikir atau bertindak bagi seorang pendidik dalam usaha menciptakan dan
memelihara kondisi belajar yang optimal serta mengembalikan kondisinya bila
terjadi gangguan dalam proses pembelajaran. Tujuan pengelolaan kelas adalah
agar setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga tujuan
pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien.
2. Permasalahan dalam prinsip
manajemen kelas
Ada dua jenis masalah pengelolaan kelas,
yaitu yang bersifat perorangan atau individual dan yang bersifat kelompok.
Disadari bahwa masalah perorangan atau individual dan masalah kelompok
seringkali menyatu dan amat sukar dipisahkan yang satu dari yang lain. Namun
demikian, pembedaan antara kedua jenis masalah itu akan bermanfaat, terutama
apabila guru ingin mengenali dan menangani permasalahan yang ada dalam kelas
yang menjadi tanggung jawabnya. Masalah pengelolaan kelas tersebut, yaitu :
1) Masalah Individual
Penggolongan masalah individual ini
didasarkan atas anggapan dasar bahwa tingkah laku manusia itu mengarah pada
pencapaian suatu tujuan.Setiap individu memiliki kebutuhan dasar untuk memiliki
dan untuk merasa dirinya berguna. Jika seorang individu gagal mengembangkan
rasa memiliki dan rasa dirinya berharga maka dia akan bertingkah laku
menyimpang. Ada empat jenis penyimpangan tingkah laku, yaitu tingkah laku
menarik perhatian orang lain,mencari kekuasaan, menuntut balas dan
memperlihatkan ketidak mampuan. Keempat tingkah laku ini diurutkan makin lama
makin berat. Misalnya, seorang anak yang gagal menarik perhatian orang lain
boleh jadi menjadi anak yang mengejar kekuasaan.
a)
Attention getting behaviors (pola
perilaku mencari perhatian) : Seorang siswa yang gagal menemukan kedudukan
dirinya secara wajar dalam suasana hubungan sosial yang saling menerima
biasanya (secara aktif ataupun pasif) bertingkah laku mencari perhatian orang
lain. Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang aktif dapat dijumpai pada
anak-anak yang suka pamer, melawak(memperolok), membuat onar, memperlihatkan
kenakalan, terus menerus bertanya; singkatnya, tukang rewel. Tingkah laku
destruktif pencari perhatian yang pasif dapat dijumpai pada anak-anak yang
malas atau anak-anak yang terus meminta bantuan orang lain.
b)
Powerseeking behaviors (pola perilaku
menunjukkan kekuatan/kekuasaan) : Tingkah laku mencari kekuasaan sama dengan
perhatian yang destruktif, tetapi lebih mendalam. Pencari kekuasaan yang aktif
suka mendekat, berbohong, menampilkan adanya pertentangan pendapat, tidak mau
melakukan yang diperintahkan orang lain dan menunjukkan sikap tidak patuh
secara terbuka. Pencari kekuasaan yang pasif tampak pada anak-anak yang amat
menonjolkan kemalasannya sehingga tidak melakukan apa-apa sama sekali.
Anak-anak ini amat pelupa, keras kepala, dan secara pasif memperlihatkan
ketidakpatuhan.
c)
Revenge seeking behaviors (pola perilaku
menunjukkan balas dendam) : Siswa yang menuntut balas mengalami frustasi yang
amat dalam dan tidak menyadari bahwa dia sebenarnya mencari sukses dengan jalan
menyakiti orang lain. Keganasan, penyerangan secara fisik (mencakar, menggigit,
menendang) terhadap sesama siswa, petugas atau pengusaha, ataupun terhadap
binatang sering dilakukan anak-anak ini. Anak-anak seperti ini akan merasa
sakit kalau dikalahkan, dan mereka bukan pemain-pemain yang baik (misalnya
dalam pertandingan). Anak-anak yang suka menuntut balas ini biasanya lebih suka
bertindak secara aktif daripada pasif.Anak-anak penuntut balas yang aktif
sering dikenal sebagai anak-anak yang ganas dan kejam, sedang yang pasif
dikenal sebagai anak-anak pencemberut dan tidak patuh (suka menetang).
d)
Helplessness (peragaan ketidak mampuan): Siswa
yang memperlihatkan ketidakmampuan pada dasarnya merasa amat tidak mampu
berusaha mencari sesuatu yang dikehendakinya (yaitu rasa memiliki) yang
bersikap menyerah terhadap tantangan yang menghadangnya; bahkan siswa ini
menganggap bahwa yang ada dihadapannya hanyalah kegagalan yang terus
menerus.Perasaan tanpa harapan dan tidak tertolong lagi ini biasanya diikuti
dengan tingkah laku mengundurkan atau memencilkan diri.Sikap yang
memperlihatkan ketidakmampuan ini selalu berbentuk pasif.
2) Masalah Kelompok
Ada tujuh masalah kelompok dalam
kaitannya dengan pengelolaan kelas:
a)
Kurangnya kekompakan : Kurangnya kekompakan
kelompok ditandai dengan adanya kekurang-cocokkan (konflik) diantara para
anggota kelompok.Konflik antara siswa-siswa dari kelompok yang berjenis kelamin
atau bersuku berbeda termasuk kedalam kategori kekurang-kompakan ini. Dapat
dibayangkan bahwa kelas yang siswa-siswa tidak kompak akan beriklim tidak sehat
yang diwarnai oleh adanya konflik, ketegangan dan kekerasan. Siswa-siswa di
kelas seperti ini akan merasa tidak senang dengan kelompok kelasnya sehingga
mereka tidak merasa tertarik dengan kelas yang mereka duduki itu. Para siswa
tidak saling bantu membantu.
b)
Kesulitan mengikuti peraturan kelompok : Jika
suasana kelas menunjukkan bahwa siswa-siswa tidak mematuhi aturan-aturan kelas
yang telah ditetapkan, maka masalah yang kedua muncul, yaitu kekurang-mampuan
mengikuti peraturan kelompok.Contoh-contoh masalah ini ialah berisik;
bertingkah laku mengganggu padahal pada waktu itu semua siswa diminta tenang;
berbicara keras-keras atau mengganggu kawan padahal waktu itu semua siswa
diminta tenang bekerja di tempat duduknya masing-masing; dorong-mendorong atau
menyela waktu antri di kafetaria dan lain-lain.
c)
Reaksi negatif terhadap sesama anggota
kelompok : Reaksi negatif terhadap anggota kelompok terjadi apabila ekspresi
yang bersifat kasar yang dilontarkan terhadap anggota kelompok yang tidak
diterima oleh kelompok itu, anggota kelompok yang menyimpang dari aturan
kelompok atau anggota kelompok yang menghambat kegiatan kelompok.Anggota
kelompok dianggap “menyimpang” ini kemudian “dipaksa” oleh kelompok itu untuk
mengikuti kemauan kelompok.
d)
Penerimaan kelas (kelompok) atas tingkah laku
yang menyimpang : Penerimaan kelompok (kelas) atas tingkah laku yang menyimpang
terjadi apabila kelompok itu mendorong timbulnya dan mendukung anggota kelompok
yang bertingkah laku menyimpang dari norma-norma sosial pada umumnya. Contoh
yang amat umum ialah perbuatan memperolok-olokan, misalnya membuat
gambar-gambar yang “lucu” tentang guru.Jika hal ini terjadi maka masalah
kelompok dan masalah perorangan telah berkembang dan masalah kelompok
kelihatannya lebih perlu mendapat perhatian.
e) Kegiatan anggota atau kelompok yang menyimpang
dari ketentuan yang telah ditetapkan, berhenti melakukan kegiatan atau hanya
meniru-niru kegiatan orang (anggota) lainnya saja.Masalah kelompok anak timbul
dari kelompok itu mudah terganggu dalam kelancaran kegiatannya.Dalam hal ini
kelompok itu mereaksi secara berlebihan terhadap hal-hal yang sebenarnya tidak
berarti atau bahkan memanfaatkan hal-hal kecil untuk mengganggu kelancaran
kegiatan kelompok itu.Contoh yang sering terjadi ialah para siswa menolak untuk
melakukan karena mereka beranggapan guru tidak adil. Jika hal ini terjadi, maka
suasana diwarnai oleh ketidaktentuan dan kekhawatiran.
f) Kurangnya semangat, tidak mau bekerja, dan
tingkah laku agresif atau protes. Masalah kelompok yang paling rumit ialah
apabila kelompok itu melakukan protes dan tidak mau melakukan kegiatan, baik
hal itu dinyatakan secara terbuka maupun terselubung.Permintaan penjelasan yang
terus menerus tentang sesuatu tugas, kehilangan pensil, lupa mengerjakan tugas
rumah atau tugas itu tertinggal di rumah, tidak dapat mengerjakan tugas karena
gangguan keadaan tertentu, dan lain-lain merupakan contoh-contoh protes atau
keengganan bekerja.Pada umumnya protes dan keengganan seperti itu disampaikan
secara terselubung dan penyampaian secara terbuka biasanya jarang terjadi.
g) Ketidakmampuan menyesuaikan diri terhadap
perubahan lingkungan. Ketidakmampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan
terjadi apabila kelompok (kelas) mereaksi secara tidak wajar terhadap peraturan
baru atau perubahan peraturan, pengertian keanggotaan kelompok, perubahan
peraturan, pengertian keanggotaan kelompok, perubahan jadwal kegiatan,
pergantian guru dan lain-lain.Apabila hal itu terjadi sebenarnya para siswa
(anggota kelompok) sedang mereaksi terhadap suatu ketegangan tertentu; mereka
menganggap perubahan yang terjadi itu sebagai ancaman terhadap keutuhan
kelompok. Contoh yang paling sering terjadi ialah tingkah laku yang tidak sedap
pada siswa terhadap guru pengganti, padahal biasanya kelas itu adalah kelas
yang baik.
3. Kebijakan tentang prinsip
manajemen kelas
1) Undang-Undang No. 20 Tahun 2003
Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS)
Pasal 51 ayat 1 menyatakan bahwa “ Pengelolaan satuan pendidikan anak usia
dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan
standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah atau
madrasah. “
2) Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 PP No.
19 Tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional Pasal 49 ayat 1 mengemukakan
bahwa “ Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan
menengah menerapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan dengan
kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas.”
3) Permendiknas No. 19 Tahun 2007 Permendiknas
No. 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan memuat secara
terperinci tentang :
a) Perencanaan Program
b) Pelaksanaan Rencana
c) Pengawasan dan Evaluasi
d) Kepemimpinan Sekolah atau Madrasah
e) Sistem Informasi Manajemen
f) Penilaian Khusus
DAFTAR PUSTAKA
Mudasir. 2011. Manajemen Kelas.Yogyakarta: Penerbit Zanafa Publishing.
Sutikno Sobry. 2008. Manajemen Pendidikan Langkah Praktis Mewujudkan Lembaga Pendidikan yang Unggul. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Suyono dan Hariyanto. 2017. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya .
Materinya sangat bermanfaat semoga bisa diterapkan di lapangan nanti
BalasHapusBagus sekali, semoga bermanfaat bagi sesama
BalasHapusSangat bermanfat
BalasHapusSangat bagus materinya
BalasHapusSangat bagus
BalasHapusMaterinya mantap dan sngat bermanfaat
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusSanagt membantu
BalasHapusBagus materinya..
BalasHapusPostingannya membantu sekali
BalasHapusTerima kasih buat smua komentarnya
BalasHapus